DILEMA SOAL BOHONG
1 Samuel 16:1-13 (Tgl 2 Februari 2023, Kamis)
Mintalah bimbingan Roh Kudus agar perkataan kita jujur, tulus dan tanpa kepalsuan.
Jangan berbohong untuk merugikan orang lain, mencari aman (keuntungan) diri sendiri dan berbohong untuk tujuan yang tidak perlu.
Pilihan terbaik adalah meminta hikmat Allah untuk berkata benar namun penuh kasih.
Alkitab dengan tegas melarang saksi dusta (Keluaran 20:16).
Allah adalah kebenaran, dan iblis disebut sebagai bapa segala dusta (Yohanes 8:44).
Sumber: https://Das2014do.blogspot.com
Selamat membaca dan jangan lupa bersyukur guys semoga sehat dan di berkati buat Kita semua amin GBU🙏
Bolehkah berbohong ? Kemungkinan besar kita semua akan mengatakan, “Tidak !” , Tapi bagaimana, jika ada kondisi-kondisi tertentu yang mana kita tidak bisa begitu saja berterus terang ? Apakah atas nama “hukum ke-9” kita mengatakan yang sebenar-benarnya, tidak peduli apa akibat yang mungkin saja muncul ? Dokter mungkin salah satu profesi yang sering mengatakan kebohongan. Mereka berkata kepada pasiennya, “Tak perlu dipikirkan, Nanti akan sembuh kok”. Padahal pasien itu mengidap kanker stadium lanjut. Mungkin dokter itu berpikir, jika ia mengatakan yang sebenarnya pasien tersebut akan syok dan akan semakin memperparah keadaannya.
Terus terang, untuk mengatakan hal yang sebenarnya kita butuh hikmat. Namun, di sisi lain kita tidak boleh mengatasnamakan “hikmat” untuk gampang berbohong. Terlebih lagi ketika kita berada di “area abu-abu”, yang mana kita tidak bisa secara sembarangan mengatakan hal yang sebenarnya karena pertimbangan-pertimbangan kemanusiaan itu. Beberapa orang skeptis menuduh Tuhan mengajari Samuel untuk berbohong, seperti pada bacaan kita hari ini (ay.2). Namun jika kita mengacu pada hukum ke 9, “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu”. Yang jelas dilarang adalah berdusta “tentang sesama kita”, artinya dusta yang mencelakakan atau merugikan orang lain. Ya, lagi-lagi ini soal sikap hati. Apakah tujuan kita berdusta ? Untuk merugikan orang lain ? Barang jelek dibilang bagus. Untuk mencari amannya sendiri ? Menyangkal iman karena takut aniaya. Untuk tujuan yang tidak penting ? Melebih-lebihkan cerita. Jika kebohongan kita tanpa ada “tujuan yang mulia”, jelas itu dosa. Tapi apakah ada “bohong untuk tujuan mulia”? Sulit untuk menjawabnya ! Namun dalam kenyataannya, tidak semua hal bisa kita ungkapkan secara terus terang, bukan ?
Mintalah bimbingan Roh Kudus agar perkataan kita jujur, tulus dan tanpa kepalsuan. Pada saat yang sama, perkataan kita disertai dengan hikmat Tuhan. Menurut saya secara pribadi, Tuhan lebih melihat sikap hati kita daripada kalimat yang kita ucapkan. Jangan berbohong untuk merugikan orang lain, mencari aman (keuntungan) diri sendiri dan berbohong untuk tujuan yang tidak perlu. (Petrus Kwik)